SEKILAS INFO
: - Sabtu, 31-10-2020
  • 6 bulan yang lalu / SIT ASSU’ADAA Menerima Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2020-2021
PENDIDIKAN ISLAM PADA ERA GLOBALISASI

Hakikat pendidikan merupakan rangkaian usaha membimbing dan mengarahkan potensi hidup manusia. Potensi hidup manusia itu berupa kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan belajar yang memungkinkan terjadinya perubahan di dalam kehidupan pribadinya sebagai makhluk individu dan makhluk sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar tempat ia hidup. Proses tersebut senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai ideal Islam yang melahirkan norma-norma dan akhlakul karimah untuk mempersiapkan kehidupan dunia dan akherat yang khasanah. Dengan kata lain, pendidikan merupakan persoalan hidup dan kehidupan, dan seluruh proses hidup dan kehidupan adalah proses pendidikan, maka pendidikan Islam pada dasarnya hendak mengembangkan pandangan hidup Islami yang diharapkan tercermin dari sikap hidup dan keterampilan hidup yang Islami sehingga akan membawa kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat secara sempurna lahir dan batin, material, spiritual, dan moral, sebagai cerminan dari nilai-nilai ajaran Islam.

Globalisasi merupakan produk dari modernisasi. Menurut Nurcholish Madjid, modernisasi berarti rasionalisasi untuk memperoleh daya guna yang maksimal dalam berpikir dan bekerja demi kebahagian umat.Era globalisasi merupakan produk pembangunan yang dimotori oleh barat selaku pemegang konstelasi dunia dalam bidang iptek dan ekonomi. Namun perlu disadari pula bahwa keberhasilan barat menjadi pihak yang paling berpengaruh di dunia sesungguhnya tidak terlepas dari peran pendidikannya. Dengan kata lain, persoalan  globalisasi tidak terlepas dari keberadaan lembaga pendidikan selaku pencetak sumber daya manusia (SDM)

Namun, persepsi pendidik di era ini rupanya sudah mulai goyang dan rapuh. Hal ini teridentifikasi dari beberapa persepsi dan fakta di lapangan. Pendidik di era ini tidak banyak lagi yang mempersiapkan dirinya sebagai pengemban amanat yang suci dan mulia, mengembangkan nilai-nilai multipotensi anak didik, tetapi mempersepsikan dirinya sebagai seorang petugas semata yang mendapatkan gaji baik dari negara, maupun organisasi swasta dan mempunyai tanggung jawab tertentu yang harus dilaksanakan. Bahkan kadang-kadang muncul sifat egoisme bahwa ketika seorang pendidik akan melakukan tugasnya termotivasi oleh sifat yang materialis dan pragmatis yang tidak lagi di motivasi oleh rasa keikhlasan panggilan mengembangkan fitrahnya dan fitrah anak didiknya.

Pendidik di era modern sekarang ini dalam menjalankan tugasnya lebih banyak menyentuh aspek kecerdasan akliyat (aspek kognitif) dan kecerdasan ajasamiyat (aspek psikomotorik) dan kurang memperhatikan kecerdasan ruhaniyat (afektif). Hal ini terbukti dari produktivitas pendidikan yang banyak melahirkan siswa dan kesarjanaan cerdas dan terampil, tetapi masih banyak siswa yang tawuran, perkelahian, pemerkosaan dan lain sebagainya serta masih banyak juga sarjana berdasi yang korupsi, menindas, maling hak rakyat. Terjadinya semua ini adalah salah satu indikator bahwa pendidikan yang didapatkannya itu belum lengkap. Walaupun ada yang berhasil tapi jumlahnya tidak banyak. Padahal Islam menuntut secara keseluruhan meskipun dengan bijak

TINGGALKAN KOMENTAR