SEKILAS INFO
: - Sabtu, 19-06-2021
  • 4 bulan yang lalu / Civitas SIT ASSU’ADAA Mengucapkan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1442 H…Marhaban ya Ramadhan Syahrul Syiam…
CERITA PENDEK “Orange (Story of HighSchool Friendship)” Alur Cerita Dibuat oleh Ahmad Zaky Humami

Cerpen Dengan Alur Cerita Dibuat oleh Ahmad Zaky Humami

Sinopsis :

Kisah yang menceritakan 5 orang sahabat semasa waktu SMA, diantaranya adalah Naho Takamiya, Hiroto Suwa, Takako Chino, Saku Hagita, dan Azusa Murasaka. Mereka memiliki banyak penyesalan karna gagal menolong sahabat baru mereka disaat mereka masih SMA bersama, mereka menulis sebuah surat yang dikirim dari 10 tahun masa depan untuk disampaikan kepada diri mereka yang masih SMA. Mau tau kelanjutan kisahnya ? Ayo baca terus bacanya…

Naho, Suwa, Chino, Hagita, dan Azusa membuka surat 10 tahun lalu yang mereka tulis dan juga berisikan foto-foto kenangan mereka bersama sahabat barunya dimana mereka masih berstatus SMA, dan mereka kehilangan sahabat barunya yang pernah hampir kecelakaan dan bunuh diri. Mereka berlima memikirkan bagaimana cara untuk menyelamatkan sahabat barunya itu melalui dunia pararel, maka mereka menulis surat kembali dari 10 tahun masa depan untuk mereka 10 tahun di masa lalu yang masih SMA. Surat itu berisi semua peristiwa yang akan terjadi secara rinci beserta tanggal peristiwa tersebut.

Naho gadis berusia 16 tahun pertama kalinya terlambat di awal pertama masuk sekolah tahun ajaran baru. Disaat Naho hendak berangkat, Naho menemukan sebuah surat bertuliskan Naho Takamiya sebagai pengirim, Naho heran dan baru saja ingat dia akan terlambat sekolah. Dengan berlari secepat-cepatnya dari rumahnya dia pun sampai di sekolah dengan siswa dan sahabatnya sudah di dalam kelas, Gurunya pun masuk dan menyapa para murid setelah liburan musim panas tahun ini.

“Selamat pagi, Naho“ Sapa para sahabatnya.

“Selamat pagi semua…” Sapa Naho kepada sahabatnya.

Disaat guru sedang bercakap dan menyapa para murid, Naho membuka dan membaca isi dari surat itu ia merasa heran karena berisi pesan-pesan yang membuatnya sendiri bertanya-tanya.

“Untuk diriku yang masih kelas 2 SMA. Bagaimana kabarmu ? Aku menulis surat ini untukmu di 10 tahun masa depan. Kenapa aku menulis surat ini untukmu yang sudah SMA? Itu karena aku membutuhkan bantuanmu.” Awal isi surat itu.

“6 April : Aku lupa menyetel alarm-ku, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku kesiangan. Ada siswa pindahan dari Tokyo yang bergabung pada tahun kedua Namanya Naruse Kakeru. Dia duduk disebelahku.” Lanjutan isi surat.

Naho pun kaget dan menutup surat itu karna gurunya sudah selesai mengabsen seluruh murid dan menyapa para murid, gurunya ingin memperkenalkan seseorang siswa baru tahun kedua ini. Nama siswa itu adalah Naruse Kakeru, cowok yang berpenampilan biasa cukup tinggi dengan wajah yg cukup tampan. Naho pun merasa terkejut karena apa yang dikatakan isi surat itu benar.

“Semua, dengarkan! Siswa pindahan dari Tokyo, Namanya adalah Naruse Kakeru. Dia baru pertama kali datang ke Hagano kali ini.” Ucap gurunya kepada semua murid.

 

“Salam Kenal!” Kata Kakeru

“Baiklah kalau begitu kau bisa duduk di kursi yang kosong sebelah Takamiya, itu kursi yang paling belakang!” Lanjut gurunya.

Naruse pun duduk dan mengikuti kelas bersama dengan yang lainnya. Setelah kelas selesai,  gurunya menyuruh semua murid dalam kelas untuk mengikuti upacara pembukaan di aula sekolah. Setelah upacara dan semua pelajaran selesai. Sahabat Naho merencanakan mengajak Kakeru untuk pulang bersama, tetapi Kakeru sempat menolak karena dia mempunyai janji dengan seseorang.

“Naho, ayo pulang!” Ajak Suwa.

“Oh ya.” Balas Naho.

“Oi siang ini kita makan rotiku, yuk!” Tanya Azusa.

“Benarkah? Asyik.” Balas Naho.

“Terima Kasih.” Ucap Suwa.

“Hei, murid pindahan. Namamu Kakeru, kan? Ayo pulang bareng!” Ajak Suwa.

“Hari ini, aku sudah punya janji.” Balas Kakeru.

“Ayolah, mari kita mengakrabkan diri!” Lanjut Suwa.

“Maaf ya, mengajakmu tiba-tiba begini.” Ucap Chino merasa kasihan kepada Kakeru.

“Hei-hei! Kakeru nanti cobain roti kami juga ya.” Ucap Azusa.

“Keluarga Azusa punya toko roti, rasanya enak lo.” Ucap Hagita.

“Tapi…” Ucap Kakeru belum sempat menyelesaikannya.

“Ayo kita pulang bareng, mumpung sekolah setengah hari.” Selak Azusa.

“Dari Tokyo ya? Akan kami ajak kau berkeliling Matsumoto!” Ucap Suwa.

“Benar-benar, bagaimana?” Ucap Azusa.

“Kalau begitu, aku akan mengirim surat dulu untuk ibuku dirumah.” Balas Kakeru.

 

Setelah semua setuju, Azusa pun pulang ke toko roti keluarganya untuk mengambil roti buat sahabatnya. Tetapi roti dari toko keluarganya belum selesai dipanggang dan akan diambil nanti. Maka, Naho dan sahabatnya pun kembali berjalan berkeliling kota Hagano untuk memperkenalkan kepada Kakeru tempat barunya.

Naho merasa bingung, kenapa isi surat itu menyuruh kami untuk tidak mengajak Kakeru pulang bersama.

“Kakeru menolak untuk pulang bersama, Aku ingin kalian tidak mengajak Kakeru.” Lanjut isi surat itu.

“Kenapa isi suratnya meminta kami tidak mengajak Kakeru?” Gumam Naho.

Setelah itu Suwa memperkenalkan satu-persatu sahabatnya. Mulai dari Hagita Saku, Takamiya Naho, Takaku Chino, Hiroto Suwa, dan Azusa Murasaka. Semua sudah diperkenalkan, Naho dan sahabatnya makan roti Azusa yang baru diambil kembali. Seusai memakan roti, bercanda dan bercerita. Naho dan sahabatnya melanjutkan berkeliling kota Hagano. Semua berlari, tertawa dan bersenang-senang hari itu.

Lanjut kisah, mereka sudah selesai berkeliling kota dan bermain bersama. Tak lama kemudian hari mulai sore, Naho dan sahabatnya hendak pulang ke rumah masing- masing.

“Lain kali bawa roti kari-nya lebih banyak, ya!” Ucap Suwa.

“Kakeru apa rotinya enak?” Tanya Azusa pada Kakeru.

“Ah, ya!” Balas Kakeru.

“Sampai besok ya, teman-teman!” Ucap Suwa.

“Sampai Jumpa!” Balas Azusa, Hagita, dan Chino.

“Oh Kakeru apa tidak apa kami memanggil kau ‘Kakeru’?” Tanya Suwa.

“Ya, aku lebih suka begitu.” Jawab Kakeru.

Sampai Naho dirumahnya, dia menulis apa yang baru saja terjadi di buku harian miliknya. Dan setelah selesai menulis dia teringat untuk melanjutkan membaca isi surat itu, Naho kembali terheran ternyata apa yang baru dia tulis adalah isi surat itu sendiri. Isi surat itu sama persis apa yang baru ditulis oleh Naho mulai dari kalimat, bentuk tulisan, kata demi kata, tanggal dan bulan kejadian.

Keesokkan harinya, Naho tidak melihat Kakeru berada di sekolah.. Naho telah menanyakan kepada semua sahabatnya semua sahabatnya juga tidak tahu dia pergi kemana. Hari demi hari berlalu, Kakeru juga tak muncul masuk sekolah kembali. Naho pun bertanya pada dirinya sendiri.

“Aku tak menuruti apa yang ada didalam surat itu. Apa ini ada hubungannya dengan Kakeru tidak masuk sekolah, ya? Mungkin, di surat ini ada petunjuk kenapa Kakeru tak masuk sekolah.” Gumamnya dalam hati Naho.

          Setelah dua minggu berlalu, Kakeru akhirnya masuk sekolah kembali dan saat itu ada festival olahraga. Semua murid mengikuti berbagai macam jenis olahraga, saat itu Naho mengikuti olahraga Softball. Kemudian, Naho dimintai untuk menjadi Pinch Hitter di pertandingan softball, Naho teringat isi surat itu.

“20 April: Turnamen Bisbol, mereka memintaku untuk menjadi Pinch Hitter di pertandingan softball. Aku menolak dan menyesalinya. Kumohon kamu menerimanya untukku! Hari itu aku jatuh cinta pada Kakeru.” Lanjutan isi surat tersebut.

          Akhirnya Naho mulai mengikuti isi surat tersebut, dan kelas mereka memenangkan pertandingan Bisbol-nya. Suwa juga memenangkan pertandingan Sepak Bola-nya. Dan semua yang tertulis di surat menjadi kenyataan apabila Naho mengikuti isi surat tersebut.

“Untuk diriku di 10 tahun masa lalu. Kau sudah ditunggu oleh banyak kebahagiaan di depanmu. Kuharap kau bisa merasakan kebahagian itu. Kuharap kau tak membiarkan kebahagian itu pergi. Aku menulis surat ini karena, aku tak ingin diriku yang berumur 16 tahun mengalami penyesalan selama hidupnya. Saat ini di 10 tahun masa depan. Kakeru sudah tak lagi bersama kami. Jangan kehilangan apa yang berharga untukmu, jadi jaga baik-baik Kakeru.” Isi surat tersebut.

Disuatu hari, Naho sudah menyiapkan makan siang untuk Kakeru dan sahabatnya. Disaat istirahat makan siang tiba,  Naho tak bisa memberikannya karena Naho saat itu ragu-ragu, dan Kakeru pun pergi dengan Suwa untuk ke kantin membeli roti. Dia lagi-lagi gagal mengikuti isi dari surat tersebut.

“23 April: Kakeru bilang ibunya tak membuatkannya makan siang, jadi aku bilang akan membuatkan untuknya besok. Tapi aku berubah pikiran, dan tidak jadi memberikannya. Aku menyesal tak memberikannya. Aku ingin kau membuatkan untuknya besok.” Isi surat tersebut.

Sesudah kelas dibubarkan Naho dan sahabatnya tidak pulang bersama karena Azu, dan Chino ada tugas piket. Suwa dan Kakeru juga latihan sepak bola sementara. Naho dan Kakeru berjalan ke pintu masuk sekolah, ketika Kakeru ingin membawakan tas milik Naho yang terlihat besar dan sangat berat. Naho menolak dan respon mendorong Kakeru menjauh, spontan saja Kakeru merasa bersalah dan jalan sendiri keluar dan mencari Suwa untuk mengikuti latihan sepak bola.

“Jika karena bukan surat itu…. Surat tak bisa mengubah suatu kepribadian seseorang begitu saja. Aku berharap tak pernah membacanya.” Kata hati Naho.

Naho berpikir untuk menunggu Kakeru di pintu masuk sekolah dan meminta maaf karena tadi telah mendorongnya dengan cukup keras. Kemudian Kakeru dan Suwa datang menemui Naho di pintu masuk, Kakeru mengajak Naho untuk pulang bersamanya. Suwa menyadari dan meninggalkan mereka berdua pulang bersama.

“Hei, Naho dimana rumahmu?” Tanya Kakeru.

“Um… Dekat taman Joyama, kau tahu?” Jawab Naho.

 “Enggak sih, Taman apa ini?” Tanya Kakeru saat melewati sebuah taman.

“Ini taman hutan Agata.” Jawab Naho.

“Oh ya, aku pernah dengar.” Lanjut Kakeru.

          Mereka terus bercakap-cakap, bercerita satu sama lain. Sampai disuatu tempat berteduh mereka beristirahat dan Naho memberikan makan siangnya yang tadi tak sempat dia berikan kepada Kakeru.

“Kalau begitu, apa yang kaulakukan saat dua minggu tak masuk sekolah? Main game? Satu hal lagi, kenapa tak ikut menetap di klub sepak bola saja? Karena kau terlihat sangat senang ketika bermain sepak bola.” Tanya Naho.

“Ibuku… sudah meninggal. Beliau bunuh diri di hari pembukaan upacara sekolah. Karena itu aku absen tak masuk demi pemakaman. Aku sudah berjanji pada ibuku untuk tak masuk klub mana pun. Maaf, seharusnya aku tak membahasnya.” Jawab Kakeru.

“Tak apa. Dan… aku turut berduka.” Ucap Naho.

 

“Surat itu bilang untuk tak mengajak Kakeru saat upacara pembukaan. Kenapa aku malah mengajaknya saat itu? Surat itu seharusnya menghapus penyesalanku. Aku akan membuat Kakeru tersenyum selalu, bahkan sampai 10 tahun ke depan.” Gumamnya dalam hati.

          Sesampainya Naho dirumah, dan hari sudah mulai gelap dia melanjutkan untuk membaca surat itu lagi dan isinya bertuliskan sesuatu yang menyedihkan. Isinya sesuatu tentang kematian Kakeru.

“Musim dingin saat usianya menginjak 17 tahun, Kakeru meninggal karena kecelakaan. Semua janji yang dia buat dengan sahabatnya tak bisa ia tepati. Dan kami semua menyesal, karena sebenarnya Kakeru bisa tertolong.” Lanjutan isi surat tersebut.

“Aku akan menyelamatkan Kakeru.” Kata Hati Naho.

Keanggotaan sementara Kakeru dalam seminggu di klub sepak bola telah berakhir. Kakeru tetap tidak menjadi anggota resmi klub tersebut, dan memilih untuk keluar dari klub. Isi dari surat yang diterima Naho menyuruh Naho untuk membuat Kakeru bergabung di klub, meski harus memaksanya karena Kakeru mungkin sangat ingin masuk ke klub itu.

Keesokan harinya, Kakeru sudah resmi menjadi anggota klub sepak bola karena Suwa terus memaksa Kakeru untuk ikut. Dan Naho terheran karna kejadian yang tertulis disurat sudah terjadi, mungkin Suwa dan lainnya juga mendapatkan surat yang sama dikirim dari mereka 10 tahun di masa depan.

Disaat berada di sekolah Naho melihat Kakeru berbicara pada kakak kelas yang bernama Kak Ueda mereka berdua terlihat sangat akrab. Naho berfirasat buruk saat itu, ia berpikir bahwa kak Ueda menyukai Kakeru.

“Oh, Naruse! Aku ingin lihat latihanmu lagi nanti.” Sapa Kak Ueda.

“Oh, tentu silahkan.” Balas Kakeru.

          Disaat mereka berjalan kembali ke kelas, Kakeru meminta tolong untuk dibangunkan besok pagi jam lima lewat telpon karena ada latihan pagi klub sepak bola-nya.

 

Lanjut kisah, Naho telah sampai di rumahnya dan membaca surat itu lagi.

“2 Mei: Hari istirahat dan sekolah hanya setengah hari, hanya empat jam saja. Kak Ueda menembak Kakeru saat pelajaran kosong. Kakeru pun mulai berpacaran dengan Kak Ueda.” Isi surat itu.

Hari esok tiba dan tepat jam lima pagi Naho bangun dan mulai menelpon Kakeru yang meminta dibangunkan kemarin untuk latihan. Singkat cerita, setelah selesai latihan Kakeru berterima kasih kepada Naho karena sudah dibangunkan. Waktu istirahat datang, Naho dan sahabatnya merencanakan untuk mengajak Kakeru pergi berkeliling ke tempat yang belum dikunjunginya. Karena sekolah hanya setengah hari saja dan banyak jam kosong.

Naho yakin masa depan bisa berubah apabila dia mengikuti arahan dari surat yang dia terima, dia merasa percaya diri bahwa ini tugas yang mudah. Disaat jam pelajaraan olahraga, Kakeru melihat Naho sedang membawa barang bawaan yang berat dan menolong Naho untuk membawanya

“Oh iya… Apa ada cowok yang kamu suka?” Tanya Kakeru. “Ada ya?” Lanjut Kekeru setelah melihat Naho berhenti tiba-tiba dan wajahnya memerah.

“T-Tidak! Aku tak bisa mengakuinya.” Jawab Naho menyembunyikan perasaannya.

“Kau bagaimana, Kakeru? Apa ada yang kau suka?” Naho mengembalikan pertanyaan.

“Tidak kok.” Jawab Kakeru.

“Bagaimana dengan Kak Ueda?” Naho lanjut bertanya.

“Aku suka penampilannya.” Jawab Kakeru jujur.

Saat kembali ke kelas mereka ber-enam melakukan suit untuk menentukan siapa yang akan membeli minuman untuk mereka, dan ternyata Kakeru yang mendapatkan giliran untuk membelikan minuman. Kakeru pun menulis semua pesanan sahabatnya dan pergi menuju kantin sekolah, di tengah jalan Kakeru dipanggil Kak Ueda dan disitu Kakeru ditembak olehnya. Semua sahabatnya bertanya-tanya kepada Kakeru.

“Selamat datang, apa dia benar menembakmu?” Tanya Azu.

“Oh, ya.” Jawab Kakeru.

“Beneran? Apa jawabanmu?” Lanjut Azu.

“Aku bilang akan kujawab nanti setelah istirahat.” Jawab Kakeru.

          Sepanjang jam pelajaran di kelas, Naho terus terpikirkan tentang Kakeru yang ditembak oleh Kak Ueda. ‘Apa Kakeru bakal berpacaran dengan dia ya? Jujur saja aku tak mau dia berpacaran dengannya. Tapi… mungkin tak adil bagiku berkata begitu padanya, terlalu egois.’ Itulah yang dipikirkannya selama jam pelajaran.

Istirahat kedua pun datang, dan Naho melihat Kakeru bertemu lagi dengan Kak Ueda. Kakeru menerimanya untuk menjadi pacar Kak Ueda, dan Naho mulai sedih. Saati ia pulang sekolah dia kecewa sekali dan meminum minuman yang tadi dibelikan oleh Kakeru sambil menangis ia berkata dalam hatinya, ‘Aku meminum jus jeruk yang dibelikan oleh Kakeru. Rasanya… Manis, Asam, dan Menyedihkan.’

Hari-hari disekolah, Naho melihat Kakeru selalu berdua dengan Kak Ueda. Semua sahabatnya merasa aneh, dan merasa terganggu karena Kakeru tidak bisa bersama-sama lagi dengan mereka. Jam-jam kosong pun Kakeru selalu ditemani oleh Kak Ueda, Naho merasa cemburu tapi dia tidak bisa merasa egois.

“17 Mei: Setelah Kakeru mulai berkencan dengan Kak Ueda, aku tak bisa lagi bicara dengannya. Ini hari pertama. Saat makan siang, dia memanggilku, tapi aku menghindarinya saat melihatnya. Dan selanjutnya aku selalu menghindar darinya.”

“Saat Kakeru memanggilmu, kumohon jawab dia. Dan jangan hanya menunggu. Aku ingin kau memulaipembicaraan dengannya.”

“21 Mei: Setelah sekolah, Kakeru dan Kak Ueda bertengkar saat dia bilang ‘bye-bye’ padaku. Kemudian nanti aku baru menyadari bahwa Kakeru sedang dalam masalah saat itu.” Isi Surat

Setelah sekolah selesai dan waktu pulang datang, Kakeru lewat dibelakang Naho dan mengucapkan ‘bye-bye’ pada Naho. Naho tersadar akan isi surat yang dia baca, dan ketika Naho ingin memanggil Kakeru, Kak Ueda berlari mengejar Kakeru dan tanpa rasa bersalah Kak Ueda menabrak Naho yang berada di tengan lorong kelas saat itu. Naho pun terjatuh dan Kakeru menolongnya, kejadian itulah yang menyebabkan bertengkarnya Kakeru dan Kak Ueda. Kak Ueda sangat egois ia tidak mau Kakeru bicara dengan perempuan selain dia.

Kak Ueda pun lari meninggalkan Kakeru yang sedang menolong Naho, Naho merasa bersalah dan juga lari meninggalkan Kakeru. Kakeru merasa aneh dengan Naho dan akhirnya ia pulang sendiri. Saat Naho lari ke ujung lorong, ia bertemu dengan Suwa dan berbicara dengannya.

 

“Jangan lari Naho!” Ucap Suwa yang seperti sudah tahu masalahnya saat itu.

“Ini tak ada di surat itu… apa masa depan sedang berubah?” Ucap Naho dalam Hati.

“Tapi karena salahku… mereka bertengkar, seharusnya aku tak usah berbicara lagi dengannya seperti biasa. Sebenarnya… ada hal yang ingin kubiacarakan dengannya, tapi…” Naho terhenti berkata sambil menahan Nangis.

“Kurasa tak masalah bicara dengannya. Kita teman, kan?” Suwa menasehati Naho.

“Lagipula aku juga kerepotan. Di saat latihan dia tidak focus dan terlihat murung karena sangat ingin berbicara dengan Naho, tapi tak pernah menemukan waktu yang tepat.” Lanjut Suwa.

“Benarkah?” Tanya Naho.

“Bagaimana Kakeru ingin bicara kalau Naho lari terus?” Nasehat Suwa.

“Aku akan menemui Kakeru, dan berbicara dengannya.” Kata Naho setelah berpikir sejenak.

“Ya, pergilah.” Ucap Suwa.

“Terima Kasih, Suwa!” Ucap Naho sambil berlari mengejar Kakeru yang sudah berjalan pulang.

Setelah Naho berlari dan sudah hilang dari pandangan Suwa, ternyata Azu dan Chino lah yang menyuruh Suwa untuk berbicara pada Naho karena Azu dan Chino sudah mencurigai kalau Naho menyembunyikan sesuatu dari mereka.

Naho berlari terus mengejar Kakeru sampai di sisi lain jalan ia melihat Kakeru sedang berjalan santai sambil memikirkan kejadian tadi. Naho pun memanggilnya dari sisi lain jalan dan mengakui kesalahan-kesalahannya dan meminta maaf sambil berteriak agar terdengar oleh Kakeru. Dan ketika Naho sampai ke Kakeru dan bertanya apa yang ingin dia bicarakan, Kakeru sudah lupa karna Naho selalu menghindarinya kemarin. Naho tahu bahwa Kakeru cemas akan satu hal, Kakeru terkejut dan tertawa kecil karena Naho bisa menebak apa yang dicemaskan Kakeru.

Setelah itu, Naho dan Kakeru pulang bersama dan duduk di suatu taman. Kakeru bercerita masalah hubungannya dengan Kak Ueda, bahwa dia ingin memutuskan hubungannya dengan Kak Ueda karena menyesal bila hanya melihat perempuan dari penampilannya saja. Dan Kakeru bicara kepada Naho bahwa ada yang membuatnya lebih tertarik daripada Kak Ueda. Naho merasa malu dan bertanya.

Pada tanggal 24 Mei, Kakeru mulai absen selama satu minggu karena hari itu adalah hari ke-49 kematian ibunya. Naho tidak khawatir karena dia yakin bahwa masa depan pasti akan berubah, dan akan menyelamatkan Kakeru dan masa depannya.

“21 Juni: Saat pagi, hujannya sangat deras (tapi berhenti pada siang hari). Kakeru basah kuyup karena lupa membawa payungnya saat berangkat, jadi aku meminjamkan sapu tangan padanya. Andai aku membawa handuk. Klub sepak bola libur sebelum final. Jadi kami bisa pulang berenam lagi bersama-sama.” Isi surat.

          Pagi itu memang hujan deras, dan Kakeru basah kuyup saat memasuki kelas. Naho yang sudah tahu hal ini langsung memberikan handuk kepada Kakeru. Saat Kakeru mengajak untuk pulang bareng lagi kepada sahabatnya, Naho menerima ajakan tersebut karena tertulis di dalam surat. Ternyata sahabatnya beralasan lain agar membiarkan mereka berdua saja yang pulang bareng, sahabatnya seperti mendapatkan surat masa depan juga karena sengaja untuk membiarkan mereka berduaan.

“Naho, kamu tinggal di dekat taman Joyama, kan?” Tanya Kakeru.

“Ya.” Jawab Naho.

“Aku ingin lihat.” Ucap Kakeru.

Pelajaran demi pelajaran berlalu, akhirnya mereka berdua pulang bersama. Dan Naho mengajak Kakeru ke suatu menara dimana tempat itu dapat melihat seluruh isi kota Matsumoto.

“Jadi ini semua isi kota Matsumoto? Pegunungannya juga luar biasa.” Tanya Kakeru terkagum-kagum.

“Yang disebelah sana itu kota Azumino.         ” Jawab Naho sambil menunjuk kearah sebelah kanan kota Matsumoto.

“Pemandangan di taman Alps juga indah, lo! Hewannya juga banyak disana.” Lanjut Naho.

Tiba-tiba Naho disuruh untuk menutup matanya dan tidak boleh membukanya sebelum diperbolehkan oleh Kakeru. Setelah Naho sudah diperbolehkan untuk membuka matanya, Naho terkejut karna dipotret oleh Kakeru. Ternyata Kakeru memakaikan jepit rambut pada Naho, Naho sangat senang dan tersenyum lebar. Kakeru pun merasa malu karena baru pertama kalinya.

Singkat cerita, sekolah Naho mengadakan acara tahunan yaitu Festival Azalea. Dan beberapa hari sebelum festival dimulai semua murid mempersiapkan semua yang dibutuhkan untuk festival. Naho dan sahabatnya bekerja sama di bagian kolam renang untuk menghias dan membersihkan kolam. Suwa menukar tempat pos kerjanya dengan Naho agar Naho bisa berduaan dengan Kakeru, mereka pun bercanda dan merencanakan agar datang ke festival bersama.

Festival yang ditunggu pun mulai, Naho dan sahabatnya berjalan keliling dan melihat berbagai macam panggung acara festival disana. Dan disaat acara terakhir yaitu kembang api Naho dan Kakeru sudah berencana untuk pergi ke kolan renang untuk melihat Kembang Api berdua. Kakeru menyuruh Naho untuk pergi duluan datang ke kolam renang karena Kakeru ingin bertemu dan meminta nasihat pada Suwa.

“Suwa apa boleh aku memberi tahunya? Aku tak salah pilih jalan, kan?” Tanya Kakeru.

“Tidak ada pilihan selain itu. Lagipula ‘suka’ atau ‘tidak suka’ itu bukanlah sebuah pilihan. Pergilah! Kearah kebahagiaan Naho.” Ucap Suwa dengan tegas untuk meyakinkan Kakeru.

“Aku ingin Kesana.” Ucap Kakeru ragu.

“Kalau begitu tak perlu ragu sana pergi! Kau tak salah.” Lanjut Suwa meyakinkan.

“Iya. Makasih Suwa.” Ucap Kakeru.

          Disaat yang sama Naho sedang berjalan menuju kolam untuk menemui Kakeru bersama dengan janjinya tadi. Di pertengahan jalan Naho bertemu dengan Kak Ueda dan dua temannya, Kak Ueda menyuruh membawakan barang bawaan mereka bertiga ke kelas mereka agar Naho tidak bisa menemui Kakeru karena Acara terakhir festival segera dimulai. Naho dipaksa dan diancam oleh ketiga orang tersebut dan mau tak mau ia pun mengangkatnya naik ke kelasnya Kak Ueda.

Saat hampir sampai di lantai berikutnya, Naho melihat keluar jendela dan ternyata acara kembang api-nya sudah dimulai dan Naho hampir putus asa saat itu. Ternyata Azu dan Chino berada dibelakangnya dan membantu Naho membawakan barang itu karena mereka tahu bahwa Naho mempunyai janji dengan Kakeru. Naho pun berterima kasih dan berlari secepatnya ke kolam renang.

 

Suwa dan Hagita yang saat itu berada di pintu masuk kolam dan di dalamnya sudah ada Kakeru sedang menunggu Naho, memblokir jalan masuk ke kolam untuk Kak Ueda karna dia tahu itu adalah rencana liciknya untuk bertemu Naho. Maka, Hagita pun menipu Kak Ueda bahwa Kakeru sedang menunggunya di ruang sepak bola. Kak Ueda pun berlari menuju ruang sepak bola, dan tak lama setelah itu Naho datang langsung berlari masuk menuju kolam setelah melihat Suwa dan Hagita di pintu masuk kolam.

Kakeru terkejut karena Naho datang disaat acara kembang api hampir selesai dan sempat berpikir Naho tidak akan Datang. Ternyata acara kembang api-nya ditambahkan oleh sahabatnya untuk menambah waktu mereka berdua. Disaat itu Kakeru menyatakan cinta pada Naho, dan Naho juga sama. Mereka berdua berjanji tidak akan melupakan hari festival itu.

Esok hari adalah hari kedua Festival Azalea, Naho melanjutkan membaca isi surat tersebut di pagi hari karena tidak masuk sekolah ia sedang bersantai di kamarnya. Dia telah mengetahui bahwa Kakeru tidak lagi bersama Naho dan sahabatnya di 10 tahun masa depan karena bunuh diri yang direkayasa.

“15 Februari: Sampai saat itu tiba, di hari lain. Saat malam, hari aku seperti biasa menulis diary dikamarku, lalu Suwa menelponku dan bilang bahwa Kakeru kecelakaan. Dia bilang kalau Kakeru meninggal.”

“Kecelakaan itu terjadi malam hari jam setengah 8 malam di persimpangan dekat rumah Kakeru. Saat itu, Kakeru sedang memakai sepeda saat dia lewat didepan truk yang melaju kencang. Tak ada yang bisa kita lakukan. Menyelamatkannya dari kecelakaan takkan menyelamatkannya, aku ingin menyelamatkan hati Kakeru. 10 tahun kemudian kami tahu kalau itu bukan kecelakaan, tapi Kakeru bunuh diri. Kami menyesal karena membiarkan Kakeru mati.” Lanjutan isi surat tersebut.

          Hari festival kedua tiba, Naho dan sahabatnya kembali bersenang-senang bersama dari pagi sampai sore hari. Di malam harinya Naho dan Kakeru pergi ke kuil hanya berdua saja karena sahabatnya pergi ke tempat lain. Disaat Naho bertanya kepada Kakeru apa yang dia doakan di kuil itu, Kakeru tidak menjawabnya dengan jujur.

“Bisa aku tanya apa yang kaukatakan pada ibumu saat dikuil tadi? Apa ada sesuatu yang bisa kauceritakan tentang ibumu? Kenangan bersamanya? Persaaanmu padanya? Atau sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” Tanya Naho memaksa Kakeru untuk menjawab.

“Sudah kubilang rahasia, dan tak ada yang bisa kuceritakan.” Kakeru menjawab dengan senyuman untuk menutupi perasaannya.

“Kalau begitu… Penyesalanmu itu… Apakah karna gagal menyelamatkan ibumu?” Tanya Naho masih memaksa Kakeru untuk menjawab.

Saat suasana taman menjadi hening, tiba-tiba Naho melihat Kakeru yang mengeluarkan air matanya.

“Aku pikir jika aku memberitahumu kamu akan membenciku.” Jelas Kakeru.

“Tidak akan, aku janji.” Naho berjanji.

“Baiklah. Aku punya banyak penyesalan, tapi yang paling besar adalah di hari upacara penerimaan, hari dimana ibuku meninggal. Ibuku mempunyai masalah kesehatan, hari itu hari pertama beliau pindah kerumah sakit baru. Jadi aku janji untuk menemaninya. Tapi saat kalian mengajakku pulang bersama, aku sangat senang. Jadi aku mengabari beliau bahwa aku tak bisa menemaninya. Aku pikir bisa minta maaf saja sebagai gantinya. Tapi aku tak dapat balasan darinya. Pikiran ibuku semakin tidak stabil, beliau tidak bisa melakukan apapun tanpa ku. Aku tahu beliau butuh dukunganku. Walau aku tahu… Aku tak habis pikir bahwa beliau akan bunuh diri hanya karena hal itu. Aku sudah melakukan hal buruk. Aku sangat menyesal.” Jelas Kakeru setelah menceritakannya pada Naho.

Mereka berdua mengeluarkan air mata, dan Kakeru meminta waktu untuk sendiri dahulu, jadi Naho pindah menjauh dari Kakeru yang sedang bersediih atas penyesalannya. Azu dan Chino datang menemui Naho dan bertanya apakah festivalnya menyenangkan, dan tiba-tiba Kakeru sudah tidak lagi di taman itu ternyata Kakeru sudah pulang duluan meninggalkan mereka. Dan Naho mendapatkan pesan dari Kakeru berisi ucapan terima kasih pada Naho.

Esok harinya, Suwa datang bertamu kerumah Naho. Suwa ingin bertanya tentang Kakeru yang tidak ikut latihan beberapa hari, dan Suwa berpikir bahwa Naho tahu alasannya. Mereka sedang mengobrol di depan rumah Naho.

“Naho, maaf mendadak.” Ucap Suwa

“Tak apa, ada apa?” Tanya Naho.

“Kakeru belakangan ini tidak latihan sepak bola, kupikir kau tahu alasannya.” Lanjut Suwa.

“Kakeru…” Naho ragu mengucapkannya sebab kejadian semalam.

“Naho, ada apa?” Tanya Suwa merasa aneh pada Naho.

“Mungkin Suwa bisa mengerti, aku tak yakin bisa melakukannya sendiri.” Gumam Naho.

“Suwa… Aku ingin membahas sesuatu denganmu. Aku ingin kau membantuku menyelamatkan Kakeru. Tapi mungkin kau tak dapat mempercayaiku, tapi… begini…” Mohon Naho pada Suwa.

“Naho. Tak apa. Jangan khawatir. Kau juga dapat? Sebuah surat.” Potong Suwa yang sudah tahu kalau Naho juga mendapatkan surat dari dirinya sendiri di 10 tahun masa depan.

Suwa menceritakan semuanya pada Naho dan Naho mulai mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Ternyata bukan hanya Naho saja yang mendapatkan suart dari 10 tahun masa depan, kemungkinan juga sahabatnya mendapatkannya. Suwa meminta tolong pada Naho untuk merayakan ulang tahun Kakeru yang sudah mendekati tanggalnya.

“Kamu tak perlu khawatir, kita pasti menyelamatkan Kakeru.” Ucap Suwa.

“Iya.” Jawab Naho.

“Kalau begitu, aku meminta tolong padamu, Naho. ‘Tanggal 14 September, hari ulang tahun Kakeru. Aku ingin kau memberikan hadiah ulang tahun oleh karena itu pastikan untuk menanyakan padanya.’ Sepertinya, di masa depan kita tidak tahu hariulang tahun Kakeru saat itu, makanya kita tak sempat merayakannya.” Ucap Suwa menjelaskan kepada Naho.

Keesokannya, Naho, Suwa dan sahabatnya mengobrol dan berpura-pura menanyakan hari ulang tahun Kakeru kepadanya. Dan Kakeru menjawabnya yaitu tanggal 14 September, Naho dan Suwa berhasil berpura-pura tidak mengetahuinya. Dan disetiap Kakeru sedang melakukan sesuatu sahabatnya selalu menanyakan apa yang dibutuhkan Kakeru.

Disetiap saat di sekolah, sahabatnya selalu saja menanyakan tentang apa yang diinginkan Kakeru dan beralasan bukan untuk hadiah. Isi surat Suwa mengatakan untuk memastikan bahwa Suwa menanyakan dan memberi hadiah yang terakhir dari sahabatnya. Dan Kakeru menginginkan karangan bunga untuk diberikan kepada Naho, jika dia mendapatkannya maka dia akan memberinya ke Naho.

Dan keesokan harinya adalah hari Kakeru ulang tahun, setelah pulang sekolah sahabatnya memberikan apa yang Kakeru inginkan kemarin. Suwa memberikan karangan bunga itu dengan malu-malu karena ditertawakan oleh sahabatnya. Dan Kakeru memberikan karangan bunga tersebut kepada Naho. Mereka merayakannya dengan bercanda dan bersenang-senang bersama.

~SINGKAT CERITA~

Disuatu hari, Naho dan sahabatnya berkumpul tanpa sepengetahuan Kakeru, dan masing-masing bertanya kepada satu sama lain, apakah semua sahabatnya mendapatkan surat dari 10 tahun masa depan. Ternyata semua dapat surat tersebut dan menyesal di hari penerimaan mereka mengajak Kakeru pulang bersama.

“14 Februari: Sehari sebelum Kakeru meninggal. Kami membuat coklat Valentine di kelas. Aku membuat untuk Kakeru tanpa sepengetahuan siapa pun. Rencananya aku mau memberikan dan menyatakan perasaanku padanya. Tapi aku tak bisa mengajaknya mengobrol. Meskipun banyak kesempatan..” Isi surat.

14 Februari satu hari sebelum kejadian meninggalnya Kakeru, pada saat itu ada kelas membuat coklat dan Naho membuatnya untuk Kakeru. Disaat Naho sedang mengikuti arahan dari surat itu, Kakeru ternyata mendapatkan coklat dari anak perempuan kelas satu. Tetapi Naho tetap mengikuti arahan dari isi surat tersebut.

Tanggal 15 Februari, Naho dan sahabatnya teringat isi surat mereka masing-masing dan ingin menyelamatkan Kakeru. Pada malam harinya, Naho dan sahabatnya berkumpul ditempat kejadian dan jam yang sama dengan apa yang tertulis di surat mereka. Beberapa saat mereka menunggu, ternyata Kakeru tak kunjung datang. Ketika Naho dan sahabatnya datang kerumah Kakeru ternyata mereka hanya menemukan Neneknya saja, dan bilang bahwa Kakeru tiba-tiba pergi ke luar baru saja beberapa menit lalu.

Naho dan sahabatnya merasa cemas karena melihat sepeda Kakeru masih berada di rumahnya. Ini berbeda dengan apa yang tertulis di surat mereka, yang tertulis di dalam suratnya bahwa Kakeru pergi membawa sepeda. Hagita beranggapan kalau ini terjadi karena mereka sudah terlalu banyak mengubah masa depan, dengan mengikuti arahan dari surat itu.

Naho dan sahabatnya segera berpencar ke segala jalan persimpangan yang ada di dekat rumahnya. Tidak lama mereka mencari Kakeru, ternyata Hagita mendapat informasi bahwa ada orang yang melihat Kakeru yang mengarah ke posisi Naho dan Suwa.

Naho dan Suwa bergegas berlari lagi mencari Kakeru sesuai yang diinformasikan oleh Hagita, Hagita dan yang lainnya juga bergegas menuju ke tempat Naho dan Suwa. Sambil berlari Naho terus menteriakkan nama Kakeru sekencang-kencangnya. Tiba-tiba disaat Suwa menerima misscall dari Hagita, Naho melihat Kakeru di sisi lain jalan. Kakeru berjalan sambil menangis dengan tatapan kosong seperti orang yang putus asa. Tak lama Naho melihatnya tiba-tiba ada truk yang melintas dan hampir menabrak Kakeru. Naho dan sahabatnya spontan langsung berlari kearah Kakeru, mereka semua memanggilkan nama Kakeru berharap Kakeru tidak apa apa. Dan ternyata Kakeru masih hidup segera membuka matanya sambil menangis.

“Kakeru, kau baik-baik saja? Apa yang kaulakukan? Kenapa kau melakukan itu?” Tanya Suwa.

“Aku ingin mencoba… bunuh diri… Aku berpikir untuk meminta maaf kepada ibu. Tapi… Aku tak bisa melakukannya. Aku khawatir… Apa yang kalian pikir kalau aku mati. Mungkin saja… Besok ada kejadian menarik juga. Aku jadi berpikir untuk membatalkan niatku menemui ibuku.” Jawab Kakeru

“Syukurlah.” Ucap Naho merasa lega.

“Maaf. Tapi bagaimana kalian bisa tahu?” Tanya Kakeru heran.

“Semua tertulis di surat. Di surat tertulis kalau kau ingin bunuh diri hari ini, dan untuk menyelamatkanmu.” Kata Hagita sambil mengeluarkan suratnya.

“Kami dapat surat dari diri kami sepuluh tahun masa depan.” Kata Naho.

“Sepuluh tahun masa depan?” Tanya Kakeru.

“Ada juga untukmu Kakeru.” Ucap Azu sambil mengeluarkan surat untuk Kakeru dari 10 tahun masa depan, diikuti oleh sahabatnya yang lain.

Kakeru membaca surat yang diberikan Naho dan sahabatnya yang berisi permintaan maaf dan penyesalan diri mereka masing-masing dari sepuluh tahun masa depan. Naho bernafas lega karena tujuannya bersama sahabatnya menjadi kenyataan untuk menyelamatkan Kakeru dari kecelakaan tersebut.

Setelah kejadian itu, mereka pun membuat surat yang berisi salam mereka untuk 10 tahun masa depan dan menguburnya dekat pekarangan sekolah mereka. Mereka menyebutnya dengan kapsul waktu. Kakeru sangat senang karena masih bisa hidup saat ini, dan berterima kasih kembali karena sudah menyelamatkannya.

 

TINGGALKAN KOMENTAR